Saturday, 2 June 2018

Bakteri Diprogram Dengan Sensor Sirkuit Untuk Mendeteksi Penyakit

Bakteri Diprogram Dengan Sensor Sirkuit Untuk Mendeteksi Penyakit

Hai minna-san, jumpa lagi di Indo Blogger.
Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga selalu dalam keadaan baik dan sehat.
Pada kesempatan kali ini saya akan membagikan perkembangan ilmu teknologi yang mampu memprogram bakteri untuk menjadi bio-sensor penyakit pada manusia.

Ilmu kedokteran sejak dahulu telah menemukan bahwa tidak semua bakteri yang ada pada manusia bersifat merusak atau merugikan. Ada yang tidak menyebabkan apa-apa, dan ada yang malah menguntungkan. Saya akan memberikan informasi terkait dengan penelitian yang dilakukan oleh Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang sebenarnya sudah dipublikasikan sejak tahun 2015, namun masih banyak yang belum mengetahui informasi ini.


Para peneliti di Massachusetts Institute of Technology telah berhasil memprogram bakteri yang ramah di dalam tubuh kita untuk mendeteksi penyakit seperti kanker usus besar, gangguan kekebalan tubuh, dan mengobatinya. Mereka telah mengeluarkan sensor, sirkuit, dan switch memory untuk dikodekan dalam bakteri Bacteroides thetaiotaomicron, yang ditemukan di dalam usus manusia.

Para peneliti Massachusetts Institute of Technology (MIT) telah menerbitkan sebuah makalah penelitian dalam jurnal Cell Systems dan menjelaskan bagaimana elemen-elemen komputasi dasar ini dapat dikodekan dalam bakteri. Teknologi inovatif ini memungkinkan bakteri untuk mendeteksi sinyal di usus, dan kemudian meresponnya. Mereka juga dapat menghafal sinyal dan perilaku mereka sendiri.

Bakteri yang diprogram ini dapat digunakan dalam deteksi dini penyakit radang usus dan perawatannya. Konsep mendeteksi penyakit ini juga dapat digunakan di bagian organ tubuh manusia yang lain dengan bakteri yang cocok.

Menurut Timothy Lu, fokus utama pada penelitian ini adalah dengan memanfaatkan bakteri B. thetaiotaomicron yang memang sudah ada dalam usus manusia dalam jumlah yang melimpah. Timothy Lu adalah seorang profesor Teknik Biologi, Teknik Elektro, dan Ilmu Komputer.

Para peneliti menggunakan teknologi CRISPR untuk mengendalikan gen bakteri dengan menyalakan dan mematikan sistem tersebut. Tes ini dilakukan dengan memberikan semacam genetic memory pada bakteri. Namun, tim penelitu tidak mengungkapkan proses pengambilan informasi dari bakteri ini. Selain itu, penelitian lebih lanjut juga dilakukan dengan harapan dapat membuat sirkuit komputasi genetik tingkat lanjut.


Tom Ellis mengatakan bahwa sudah ada penelitian lain yang sudah mengembangkan alat aplikasi untuk rekayasa sirkuit genetik, atau bio-sensor yang selanjutnya ditempatkan pada usus manusia. Dengan menggunakan bakteri dari genus Bacteroides karena paling umum ditemukan. Tom Ellis adalah pemimpin kelompok dari Centre for Synthetic Biology di Imperial College London. Dia tidak terlibat penelitian di Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Inilah perkembangan teknologi dari dunia kesehatan yang mampu memanfaatkan sistem rekayasa komputasi untuk menjadikan bakteri sebagai detektor penyakit.

Pantau terus blog ini untuk mendapatkan artikel-artikel menarik lainnya.
Agan juga bisa request artikel melalui form yang sudah tersedia di panel blog.
Terimakasih sudah berkunjung di blog yang sederhana ini, semoga bermanfaat.

Sumber: Research Computing of Bacteria, Massachusetts Institute of Technology (MIT)

Artikel Terkait

Saya adalah seorang mekanik permesinan yang mempunyai hobi menulis.

2 komentar

Nice f> Gatot gunkid

Mantap, f> denjaka hitam 😎

Komentar bebas tapi sopan. Jangan menyinggung SARA ya gan....
EmoticonEmoticon