Download Contoh Makalah Pendidikan Pengertian Filsafat Islam Lengkap Docx

Download Contoh Makalah Pendidikan Pengertian Filsafat Islam Lengkap Docx

Contoh makalah pendidikan filsafat Islam. Bagi agan yang mempunyai tugas makalah dan belum tahu cara membuat makalah yang baik, saya akan memberikan contoh makalah pendidikan yang kali ini membawa tema pendidikan filsafat islam.

Makalah ini hanya sebagai contoh saja, namun agan juga bisa menggunakannya untuk tugas sekolah. Untuk mempermudah, nanti dibagian akhir artikel akan saya cantumkan link download makalah ini dalam bentuk dokumen Microsoft Word atau dokumen dengan format Docx.

Baca juga: Tips Bisnis, Cara Memasarkan Produk Usaha Makanan Dan Minuman Laris

Contoh Makalah Pendidikan Filsafat Islam, Ditujukan Untuk Tugas  Mata Kuliah Filsafat Islam



KATA PENGANTAR


Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat dan limpahan rahmatnyalah maka penulis boleh menyelesaikan sebuah tugas ini dengan tepat waktu.

Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah makalah dengan judul "Filsafat Islam", yang menurut penulis dapat memberikan manfaat yang besar bagi kita untuk mempelajarinya.

Melalui kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf dan memohon permakluman bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang penulis buat kurang tepat atau menyinggung perasaan pembaca.

Dengan ini saya mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan semoga allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat.

BAB I: PENDAHULUAN


A. Menuju filsafat Islam


Kata filsafat diambil dari bahasa Yunani, philosophia yang merupakan rangkaian dua kata dasar philo dan sophos. Philo artinya mencintai dan sophos artinya kebijaksanaan atau kearifan atau pengetahuan. Rangkaian philosophia diterjamahkan ke dalam bahasa Arab menjadi falsafat.

Berfilsafat adalah berpikir secara mendalam tentang hakikat segala sesuatu dalam aturan logis yang tertata dan bertanggung jawab. Istilah filsafat Arab merupakan istilah yang diambil berdasarkan mayoritas penggunaan bahasa dalam karya-karya filsafat orang-orang Islam yang ditulis dalam bahasa Arab.

Dinamakan filsafat Arab, karena kebudayaan Arab mendahului kebudayaan Islam, dan kebudayaan Islam disebarluaskan oleh pemuka-pemuka Arab.
Sedangkan kalangan yang mengidentikkan filsafat umat Islam dengan istilah filsafat Islam, dengan tiga alasan:

  • Adanya fakta bahwa para filosof muslim yang membangun pemikiran filosofis menyebut filsafatnya sebagai filsafat Islam.
  • Islam bukan hanya nama untuk menyebut identitas agama yang dibawa Muhammad SAW, melainkan juga nama untuk menunjukkan salah satu bentuk kebudayaan dan peradaban dunia dengan pencapaian prestasi yang gemilang.
  • Dinamakan filsafat Islam karena tidak mungkin terbentuk tanpa bantuan langsung dari penguasa daulah Islamiyyah.

Para filosof muslim merumuskan defenisi filsafat seperti defenisi-defenisi warisan Yunani yang sudah dimodifikasi dan diidentifikasi mempunyai makna yang serupa dengan kata hikmah dalam Al-Quran.

Berikut beberapa defenisi filsafat yang sering dipaparkan para filosof muslim:

  • Filsafat (al-falsafah) adalah pengetahuan tentang segala yang ada qua maujud-maujud (al-ilm bi al-asya’ al-maujudah bimahiyah al maujudah).
  • Filsafat adalah pengetahuan tentang yang ilahiyah dan yang insaniyah.
  • Filsafat adalah kajian yang mencari perlindungan dalam kematian atau perasaan pada kematian.
  • Filsafat adalah upaya untuk mencari Tuhan sesuai kadar kemampuan manusia yang berpikir.
  • Filsafat adalah seni dalam seni dan dalam ilmu.
  • Filsafat adalah prasyarat bagi kemunculan hikmah.

Ada tiga bahasan utama yang sering dibicarakan para filosof muslim dalam tema manusia yaitu:

  • Manusia sebagai mikrokosmos.
  • Manusia sebagai toemorfis atau citra Tuhan.
  • Hubungan antara manusia dan kebebasan.

Ruangan lingkup secara umum adalah segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada dalam realitas pikiran dan kenyataan, sedangkan ruang lingkup Islam tidak seluas itu, karena sejak semula filsafat Islam dibuat dalam tema-tema keagamaan atau persoalan yang berhubungan dengan prinsip-prinsip dalam ajaran agama Islam.

B. Sejarah Singkat Kemunculan Filsafat Islam


Pada tahun 641 Masehi, pasukan Arab melakuakn ekspansi wilayah dan menaklukan Mesir. Alexandria berubah nama menjadi Iskandariyah. Tetapi, sikap arif pasukan Arab ditunjukkan dengan tidak menghancurkan perkembangan pemikiran-pemikiran dikota itu. Iskandaariyah tetap menjadi pusat perkembangan filsafat, kedokteran dan sains Yunani.

Inilah kebudayaan Arab bertemu dengan kebudayaan Kristen yang sudah terlebih dahulu dimasuki oleh kebudayaan besar Yunani. Terlepas dari gejolak politik internal yang mewarnai sejarah peradaban Islam, penerjemahan karya-karya telah membuka akses bagi kemunculan filsafat didunia Islam.

Khalid Ibn Yazid (w. 704 M) dari dinasti Umayyah sebagai perintis proyek penerjemahan pemikiran Yunani dalam bidang Kedokteran, Kimia dan Astrologi dari bahasa Yunani dan Suryani ke dalam bahasa Arab.

Sedangkan karya pertama filsafat yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, dilakukan oleh seorang sastrawan bernama ‘Abdullah Ibn al-Muqaffan (w. 759 M) dan putranya Muhammad yang mencakup Categories Hermeneutica dan Analytica karangan Aristoteles.

Selanjutnya, putra kedua Harun al-Rasyid, al-Ma’mun (813-833 M) menetapkan kebijakkan resmi untuk kerja pengenalan filsafat sains dan kedokteran Yunani. Bersamaan dengan itu, filsafat juga mendirikan Bait al-Hikmah di Baghdad sebagai perpustakaan dan sekaligus sebagai pusat penerjemah.

Dalam sejarah filsafat Islam, karya-karya terjemahan filsafat itu merangsang perkembangan pemikiran filosofis dan teologis dikalangan umat Islam pada abad ke-7 yang bertepatan dengan maraknya perselisian teologis antar golongan yang berebut kekuasaan politik.

Dalam konteks sejarah filsafat perdebatan teologis tidak serta merta memunculkan filsafat Islam. Pembentukan filsafat dalam dunia Islam dengan sitematika yang memadai baru dimulai abad ke-9 Masehi.

C. Sumber-Sumber Filsafat Islam


Tradisi filsafat Yunani merupakan sumber awal kelahiran filsafat-filsafat lain, termasuk juga filsafat Islam. Hubungan antara filsafat Islaam dan filsafat Yunani berlangsung melalui perantara yaitu kebudayaan Hellenistik yang berkembang di Iskandariah.

Filsafat islam tidak menolak keberadaan indera dan akal sebagai sumber pengetahuan manusia.selain pengalaman indera dan pengalaman logis, dalam tradisi filsafat Islam,keberadaan wahyu juga diterima sebagai sumber pengetahuan. Ditinjau dari kondisi historis dan normative, wahyu Illahi menempati posisi sentral dalam pemikiran umat Islam.

BAB II: Uraian


1. Para Filosof Muslim Awal


1. Al-Kindi (185-252 H/801-866 M)

Nama lengkap Al-Kindi adalah Abu Yusuf Ya’qub Ibn Ishaq Ibn Shabah Ibn Imran Ibn Ismail Ibn Muhammad Ibn al- Asy’ats Ibn Qais al-Kindi, lahir di Kufah tahun 185 H/801 M.

Para sejarawan memberi julukan kepada al-Kindi sebagai “Filosof Arab” karena dia adalah satu-satunya filosof muslim keturunan Arab asli, bermoyang kepada Ya’qub Ibn Qathan yang bermukim dikawasan Arab Selatan.

Karya-karya al-Kindi merupakan gerbang awal pertemuan filsafat Yunani dan tradisi keilmuan Islam. Proyek pemikiran dan pembelajaran pengetahuan al-Kindi didukung oleh persetujuan Khalifah al-Ma’mun dan al-Mutashim dari dinasti Abbasiyah

Ibnu Nadhim mengelompokkan karya-karya al-Kindi menjadi tujuh belas bagian, yakni:

  • Filsafat
  • Astrologi
  • Logika
  • Dialektika
  • Ilmu Hitung
  • Psikologi
  • Globular
  • Politik
  • Musik
  • Meteorologi
  • Astronomi
  • Dimensi
  • Geometri
  • Benda-benda Pertama
  • Sperikal
  • Spesies, Logam dan Kimia 
  • Medis

Keseluruhan kajian ini dapat dijadikan bukti yang menunjukkan keluasaan ilmu al-Kindi dan kecintaannya pada pengetahuan. Rekontruksi pemikiran filsafat al-Kindi merupakan refleksi doktrin-doktrin yang diperoleh dari sumber-sumber Yunani klasik dan warisan Neo Platonis yang dipadukan dengan keyakinan agama yang dianutnya.

Al-Kindi dalam karyanya Kammiyah Kutub dan Filsafat sebagai berikut:

  • Filsafat merupakan bagian dari humaniora yang dicapai para filosof melalui proses panjang pembelajaran, sedangkan agama adalah ilmu Ketuhanan yang menempati tingkatan tertinggi karena diperoleh tanpa batas pembelajaran dan hanya diterima secara langsung oleh para Rasul melalui proses pewahyuan.
  • Jawaban filsafat menunjukan ketidakpastian danmemerlukan perenungan yang  mendalam, sedangkan agama lewat kitab suci member jawaban yang pasti dan meyakinkan.
  • Filsafat menggunakan metode logika, sedangkan agama mendekatkan persoalan manusia dengan keimanan.

2. Abu Bakar Al-Razi (250-313 H/864-925M)

Al-Razi lahir di Ray (bagian selatan Teheran) pada hari pertama bulan Sya’ban sekitar tahun 250 H/864 M. nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad Ibn Zakaria al-Razi.

Al-Razi adalah rasionalis murni yang menitik-tolakkan seluruh pemikiran dan kecenderungannya pada keampuhan daya rasional. Al-Razi memiliki kecenderungan empiric dalam memandang keseluruhan objek filsafat.

Studi klinis kedokterannya membantu al-Razi dalam menentukan metode yang kuat untuk dijadikan fondasi pemikiran filsafat secara keseluruhan. Melalui studi klinis kedokteran ini, al-Razi mencoba untuk berpijak pada metode observasi dan eksperimen dalam filsafatnya.

Al-Razi dengan tegas menyatakan bahwa segala tingkah laku manusia mesti bersandar pada petunjuk rasio, dan hawa nafsu pun mesti dikekang oleh rasio yang dibantu oleh ketetapan aturan agama (tradisi).

3. Al-Farabi (257-339 H/872-950 M)

Nama lengkapnya adalah Abu Nashr Muhammad Ibn Muhammad Ibn Tarkhan Ibn Auzlag al-Farabi. Lahir pada tahun 257 H/870 M) di Wasjik, distrik Farab (sekarang Atrar) Tukistan.

Sebagian besar karya al-Farabi adalah persoalan Logika. A-Farabi menyatakan bahwa seni Logika memberikan aturan-aturan berpikir yang bila diikuti akan menghasilkan pemikiran besar. Logika dapat mengarahkan manusia secara langsung kepada kebenaran dan menjauhkan dari kesalahan.

4. Ikhwan Al-Shafa 

Terminologi Ikhwan al-Shafa digunakan untuk menunjukkan kepada sekelompok pemikir filsafat dari kalangan umat Islam berpaham Syi’ah Isma’iliyah pada abad ke-4 H/10 M, tetapi ia bukanlah bagian dari Syi’ah Isma’iliyah, ia dianggap sebagai bagian dari mereka karena mendapat tempat di hati para pembesar Syi’ah Isma’iliyah.

Dalam produktivitas penyusunan dan penulisan karya, Ikhwan al-Shafa telah mengumpulkan karya-karya penting mereka dalam satu ensiklopedi yang memuat 25 risalah dengan kualitas pemikiran beragam.

Ikhwan al-Shafa berupaya memadukan antara filsafat dan agama. Mereka beranggapan bahwa syari’at agama telah dikotori oleh berbagai macam
kebodohan yang menyesatkan dan satu-satunya jalan untuk memurnikan kembali syari’at agama adalah melalui filsafat.

Kelompok Ikhwan al Shafa lebih menempatkan posisi filsafat di atas agama, dengan kata lain pengetahuan fisafat harus menjadi landasan bagi pemahaman agama.

5. Ibnu Miskawaih (320-421 H/932-1030 M)

Ibn Miskawaih adalah seorang filosof dan sejarawan. Nama lengkapnya Abu Ali Ahmad Ibn Muhammad Ibn Yakub Ibn Miskawaih, lahir tahun 320 H di kota Ray Iran.

Dalam karyanya, Miskawaih mengemukakan bahwa para filosof klasik Yunani tidaklahh meragukan eksistensi dank e-Esaan Tuhan sehingga bukan masalah bagi umat Islam untuk memadukan doktrin filsafat Yunani dengan ajaran Islam.

Miskawaih juga tidak menolak untuk membicarakan Tuhan lewat pedoman dan panduan agama, karena Miskawaih pernah membuat kesimpulan yang menyatakan bahwa ketiadaan jalan rasinal untuk memahami Tuhan, mau tidak mau membuat manusia mengikuti seluruh petunjuk agama dan pandangan-pandangan umum komunitas religious yang ada.

6. Ibnu Sina (370-428 H/980-1037 M)

Ibnu Sina, Syaikh al-Ra’is al-Akbar, adalah pria kelahiran desa Aisyanah, dekat Bkhara, Transoxania (Persia Utara) sekitar tahun 370 H/980 M).

Ibnu Sina dibesarkan dalam lingkungan keluarga Syi’ah Islma’iliyah. Kaum cendikiawan Barat mengenalnya dengan sebutan Avicenna. Dialah satu dari sekian filosof muslim yang banyak mempengaruhi pemikiran para penerusnya.

Menurut Ibnu Sina, tujuan filsafat adalah penetapan realitas segala sesuatu sepanjang hal itu mungkin bagi manusia. Persoalan filsafat bagi Ibnu Sina dibagi dalam dua wilayah besar yaitu teoritis dan praktis. Pada tataran teoritis, filsafat mencari pengetahuan tentang kebenaran.

Sedangkan pada tataran praktis, filsafat mencari pengetahuan tentang kebaikan. Tujuan yang digariskan dalam filsafat teoritis hanyalah upaya penyempurnaan jiwa. Filsafat teoritis merupakan pengetahuan tentang segala hal yang bukan karena kehendak dan pilihan manusia.

Adapun tujuan yang mesti dicapai filsafat praktis adalah penyempurnaan jiwa melalui pengetahuan tentang segala hal yang seharusnya dilakukan sssampai jiwa bertindak berdasarkan pengetahuan teoritis.

Karakteristik filsafat praktis yang mengikutsertakan kehendak dan pilihan manusia dalam merumuskan keseluruhan tindakan berpengaruh manusia.

7. Al-Ghazali (450-505 H/ 1058-1111 M)

Nama lengkap al-Ghazali adalah Abu Hamid Muhammad Bin Muhammad Bin Ahmad al-Ghazali, bergelar “Hujjat al-Islam”. Lahir tahun 450 H/1058 M) di Ghazaleh.

Situasi ppolitik zaman yang dialami al-Ghazali tidak jauh berbada dengan kondisi masyarakat yang dihadapi Ibnu Sina, zaman disaat para khalifah dari dinasti Abbasiyah kehilangan kekuasaan sejak abad ke-5 H.

Pemberontakan atas sentralitas pemerintahan dan kebijakan penguasa terjadi di banyak wilayah dan mengakibatkan sedikit gangguan dalam perkembangan ilmu.

Masa skeptis al-Ghazali pada pengetahuan yang bias juga dianggap sebagai masa krisis psikologisnya, terjadi pada hari-hari yang penuh kekacauan ini. Dalam konteks perkembanngan pemikiran, dua gerakan besar saling berebut simpati dan terkontaminasi oleh pandangan politis, gerakan ilmu Kalam dan gerakan Tasawuf.

Ilmu Kalam menjadi ajang perdebatan politis antara Asy’ariyah dan Mu’tazilah dan antara mazhab Hanbali dengan mazhab-mazhab lainnya.

Menurut al-Ghazali, lapangan filsafat hanya ada enam: matematika, logika, fisika, metafisika, politik dan etika.

Hubungan antara tiap disiplin dengan agama, tidak selamanya berbentuk sama. Menurut al-Ghazali, alam tidak qadim, apapun alasannya. Kehendak (iradat) Tuhan yang qadim yang menghendaki agar alam tewujud.

Jika para filosof mengklaim bahwa tindakan berpengetahuan adalah perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, maka Tuhan akan berubah-ubah selaras dengan perkembangan pengetahuan partikular.

Bagi, al-Ghazali, tindakan pengetahuan bukan proses perubahan seperti yang diyakini para filosof, tetapi penambahan.

2. Para Filosof Muslim Andalusia


1. Ibnu Bajah (475 H/1082-1138 M)

Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad Ibn Yahay Ibn al-Sha’gh al-Andalusi al-Samqusti Ibn Bajah. Lahir di Saragossa pada tahun 475 H/11082 M. Ia adalah pemikir muslim pertama di dunia Barat.

Ibnu Bajah memulai pembicaraan filsafat dengan terlebih dulu menerima akal dan menaruh hormat yang tinggi pada cara kerja akal. Menurutnya, akal adalah senjata dan sarana yang mengantarkan manusia kepada kebahagiaan, dan kebahagiaan adalah tujuan.

2. Ibnu Thufail (506 H/1110-1185 M)

Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Ibn Thufail Abd al-Malik Ibn Muahmmad Ibn Muhammad Ibn Ibn Thufail al-Qaisi. Lahir di Wadi Asyi (Cadis), Timur Laut Granada pada tahun 506 H/1110 M. dia berasal dari suku Qais Maroko. Para cendikiawan dan sejarawan Barat mengenalnya dengan nama Abubacer.

Struktur pemikiranfilsafat Ibnu Thufail, sebenarnya terletak pada karyanya Hayy Ibn Yaqzahn. Ibnu Thufail menyatakan pandangangan filsafatnya tentang alam semesta, Tuhan, agama, moral, manusia dan wataknya, budaya masyarakat formal serta perihal keserasian antara agama dan filsafat.

3. Ibnu Rusyd (520-595 H/1126-1198 M)

Nama lengkapnya Abu al-Walid Muhammad Ibnu Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Ahmad Ibnu Ahmad Ibnu Rusyd. Lahir tahun 520 H di Barat, Ibnu Rusyd dikenal dengan sebutan Averroes.

Menurut Ibnu Rusyd, Filsafat merupakan penalaran logis seputar dunia empiris sebagai dalil pembuktian akan eksistensi Pencipta, sekaligus pelaksanaan perintah Shahib al-Syar’i.

Selanjutnya, Ibnu Rusyd mengingatkan bahwa Shahib al-syar’I lewat ketentuan Syara’ telah mewajibkan menusia untuk mempergunakan akal dalam menjalankan perintah-perintah-Nya.

Firman Allah dalam surat al-Araf ayat 185:  “Apakah mereka tidak memikirkan (menggunakan akal = nalar) tentang kerajaan langit dan bumi serta segala sesuatu yang diciptakan Allah”.

Dan Firman Allah dalam surat al-Hasyr ayat 2: “Hendaklah kamu ber-i’tibar hanya bias dilakukan dengan kias akali (silogisme), karena i’tibar merupakan penarikan kesimpulan dari hal-hal yang belum diketahui".

3. Para Filosof Muslim Pasca Ibnu Rusyd


1. Suhrawardi (548-587 H/1153-1191 M)

Nama lengkapnya adalah Syihab al-Din Yahya Ibn Habasyi Ibn Amirak Abu al-Futuh al-Suhrawardi. Dilahirkan di Suhraward (Iran bagian Barat laut, dekat kota Zanjan) pada tahun 548 H/1153 M.

Perjalanan pemikiran Suhrawardi bermula dari filsafat dan teologi kepada Majd al-Din al-jilil di Maraghah. Suhrawardi disebut-sebut sebagai pendiri aliran Iluminasi (al-Isyraqi) yang memadukan kebijakan rasional filsafat dengan kearifan mistikal sufistis.

Pusat pemikiran filsafat Suhrawardi adalah keyakinannya bahwa sumber segala pengetahuan adalah nur (cahaya), dan hasil Iluminasi juga berupa nur.

Persoalan-persoalan seputar nur menghiasi pandangan Metafisika Suhrawardi, dan menurutnya mayoritas kalangan Suhrawardi tidak membedakan antara Metafisika dan ontologi. Imbasnya, metafisika sama dengan ontologi, padahal tidak semua menanggapi hal yang sama.

2. Nashiruddin Thusi (597-672 H/1201-1274 M)

Nama lengkapnya adalah Abu Ja’far Muhammad Ibn Muhammad al-Hasan Nashiruddin al-Thusi al-Muhaqqiq. Lahir tanggal 18 februari 1201 M bertepatan dengan tahun 587 H di Thus, Khurasan.

Pemikiran filsafat Nashiruddin Thusi adalah dari keyakinan agama yang kemudian terpilah dalam cakupan teoritis dan praktis. Thusi menggolongkan filsafat praktis dalam tiga bagian kajian: etika, ilmu rumah tangga dan politik.

Pembagian ini didasarkan pada pandangannya atas ihwal mukhatab Al-Qur’an.

Menurutnya, Al-Qur’an diturunkan kepada manusia sebagai seorang individu, lalu kepada manusia sebagai anggota keluarga dan kepada manusia sebagai embrio masyarakat dan sekaligus penghuni sebuah tatanan kemasyarakatan.

Dengan kata lain, etika diperuntukan bagi persoalan individu, ilmu rumah tangga yang disusun untuk kepentingan antar-anggota keluarga, dan kemudian politik diperuntukkan sebagai kajian yang mengatur individu dalam hubungan dengan masyarakat.

Dengan terang-terangan, Thusi memasukkan Al-Qur’an yang merupakan kitab agama sebagai sumber pengetahuan.

3. Mulla Shadra (979-1050 H/1571-1641 M)

Nama lengkapnya adalah Shadr al-Dn Muhammad Ibnu Ibrahim ibn Yahya al-Qawami al-Shirazi. Lahir di Shiraz (Iran) pada tahun 979 H/1571 M. Ia lebih dikenal dengan sebutan Mulla Shadra dan murid-muridnya memanggilnya dengan sebutan Akhund.

Dalam filsafatnya Mulla Shadra juga memandang adanya titik temu antara filsafat dan agama sebagai satu bangunan kebenaran. Inilah asumsi pertama yang diyakini dan dipegang teguh oleh Mulla Shadra di awal filsafatnya.

Untuk membuktikan asumsi keterpaduan filsafat dan agama dalam satu bangunan kebenaran, Mulla Shadra mengajak untuk melakukan pembuktian asumsi itu melalui pelacakan atas jejak-jejak kesejarahan manusia dan kemudian membentangkan keseluruhan fakta yang didapat selama pelacakan, kemudian memandang tiap peristiwa sebagai mata rantai yang tidak terpisahkan.

BAB III: Penutup


1. Pengaruh Filsafat Islam di Barat


Musa Kazim, salah seorang yang tercacat sebagai anggota dewan redaksi “seri filsafat Islam” penerbit Mizan, dalam pengantar buku “sebuah peta kronologis” memulai tulisannya dengan pemaparan atas kesan Barat terhadap filsafat Islam.

Dalam tulisan singkat itu, disebutkan bahwa kesan yang berkembang di kalangan intelektual Barat terhadap filsafat Islam adalah kesan yang suram, sebab Barat tidak memandang adanya filsafat Islam dalam arti yang sesungguhnya.

Barat menyatakan bahwa filsafat Islam adalah filsafat Yunani yang berbahasa Arab yang berfungsi hanya sebagai penyambung peradaban Yunani. Lebih ekstrim lagi, di alinea pertama tulisannya, Kazhim entah mengutip tulisan siapa, menulis begini, “bahkan, adalah mungkin “filsafat Islam” justru menjadi limbah yang mengotori kejernihan dan kebeningan arus ayunani.

Kemudian Kazhim meneruskan tulisannya itu dengan membongkar ruang kemungkinan untuk mencari alas an yang melatar-belakangi keterbentukan kesan Barat atas filsafat Islam.

Menurutnya, ada dua faktor utama yaitu:

  • Gairah intelektual umat Islam pada masa penerjemahan warisan pemikiran Yunani, oleh kalangan Barat sengaja dilihatkan sebagai upaya meng-Islamkan pemikiran Yunani.
  • Bahkan tidak mungkin kalau kesan buruk itu terbentuk karena penguasaan Barat yang minim atas literatur kebudayaan Islam secara keseluruhan. Khususnya pada perkembangan filsafat Islam pasca Ibnu Rusyd.

2. Menuju Filsafat Islam Kontemporer


Para pemaparan sebelumnya, filsafat Islam dan seluruh pembicaraan tentangnya seakan berhenti pada zaman Mulla Shadra. Sebenarnya, filsafat Islam belum berakhir di titik itu.

Hanya saja, bertepatan dengan zaman Mulla Shadra konsentrasi pemikiran sedang beralih dan disibukkan oleh peristiwa pencerahan di Barat.

Tercatat bahwa masa hidup Mulla Shadra (1571-1641 M) hampir bersamaan dengan masa hidup Rene Descartes (1596-1650 M) yang merupakan tokoh utama pencerahan intelektual Barat.

Dengan kata lain, kesibukan filsafat waktu itu lebih ditujukan untuk membangun model baru bagi filsafat Barat yang selama sepuluh abad didominasi oleh kekuasaan lembaga agama. Di sisi lain, kekuasaan Islam dalam politik dunia sudah tidak seperkasa sebelumnya.

Pasca Mulla Shadra, filsafat Islam sebenarnya sudah tersebar ke India dan Asia lewat tangan para juru dakwah Isma’ili yang didukung oleh kekuasaan dinasti Fatimiyah Mesir.

Pada abad ke-19, Islam (India) kembali bertemu dengan kalangan kebudayaan Barat. Dari pertemuan ini, gerakan modernisasi Islam India muncul ke permukaan sejarah dengan kemunculan Sayyid Ahmad Khan (w. 1898) dari Bahador.

Setelah Ahmad Khan, Amir ‘Ali (w. 1928) yang terkenal rajin mendukung gerakan liberalism meneruskan cita-cita Ahmad Khan. Kecenderungan pemikiran Amir ‘Ali dalm mengakui kehebatan Barat tidak membuatnya lepas dari akar ke-Islaman-nya.

Amir ‘Ai memandang Nabi besar Muhammad SAW sebagai tauladan moral dan spiritual dan ia juga meyakini bahwa spirit Islam dapat ditransformasi ka dalam ide-ide atau norma-norma pembentuk inti gerakan liberalisme dan rasionalisme.

Pada tahap selanjutnya, lahirlah nama Muhammad Iqbal (w. 1938) yang terkanal dengan pengguna term-term filsafat modern dalam menafsirkan ajaran Islam.

Dalam konteks pengkajian filsafat Islam, masih banyak sisi lain dari khazanah pemikiran Islam yang belum tersentuh dan tertelusuri.

Filsafat Islam bukan sebatas pemaparan pandangan-pandangan filosofi tokoh-tokoh yang sudah menggoreskan nama dalam lembar sejarah intelektualitas Islam, lebih dari itu, filsafat Islam adalah wujud kesyukuran umat atas karunia akal.

DAFTAR PUSTAKA 


Abbas Mahmud al- Aqqad, Ibnu Rusyd, Qirtas, Yogyakarta, 2003

Al-Ghazali, Tahafut-al-Falasifah (terj) Ahmad Maimun, Futuh Printika. Islamika, Yogyakarta

Basri, Hasan & Mufti, Zainal, 2009, Filsafat Islam, Bandung: Insan Mandiri

Ibnu Rusyd, Tahafut al-Tahafut; Sanggahan Terhadap Tahafut al-Falasifah (terj) Kholifurohman Fath, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2004

Muhammad Iqbal, Rekontruksi Pemikiran dalam Islam: Dilengkapi dengan Puisi-puisi Asrari-i-Khudi, Jalasutra, Yogyakarta, 2002

Mulla Sadra, Kearifan Puncak (terj) Dimitri Mahayana & Dedi Djuniardi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2001

Jika agan ingin download makalah filsafat ini, silakan agan klik link dibawah ini.


Baca juga: Peluang Bisnis Usaha Agen Pembayaran PLN Asuransi PDAM BPJS Tiket Pulsa

Sekian pembahasan tentang contoh makalah pendidikan filsafat Islam kali ini. Terimakasih sudah berkunjung di blog sederhana ini, semoga bermanfaat.
#Makalah
Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Post a Comment