15 Negara Paling Buruk Dalam Perlindungan Korban Perdagangan Manusia

15 Negara Paling Buruk Dalam Perlindungan Korban Perdagangan Manusia

Negara dengan perlindungan paling buruk dari perdagangan manusia, negara paling banyak kasus perdagangan manusia.

Perdagangan manusia atau human trafficking adalah salah satu bisnis ilegal yang sangat menguntungkan sekaligus sangat mengerikan. Tanggal 30 Juli ditetapkan sebagai hari penolakan terhadap kegiatan perdagangan manusia di seluruh dunia. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran tentang masalah perdagangan manusia.

Pada tahun 2018 terdapat 46 negara di dunia yang masuk ke dalam kategori tingkat 3 dalam hal perlindungan penduduknya terhadap kasus perdagangan manusia. Tingkat 3 adalah peringkat terendah untuk negara-negara yang tidak sepenuhnya memenuhi standar minimum yang ditetapkan dalam perlindungan korban perdagangan manusia.

Negara tingkat 3 sering mengabaikan atau jika bertindak tidak memberikan penanganan yang signignifikan terhadap kasus perdagangan manusia. Dari tahun 2011 hingga 2018 ada 4 negara yang secara konsisten selalu masuk dalam negara tingkat 3. Negara-negara tersebut adalah Guineai Khatulistiwa, Iran, Korea Utara, dan Eritrea.

Republik Afrika Tengah, Mauritania, dan Suriah pernah masuk kedalam golongan negara tingkat 3 dalam hal perlindungan terhadap korban perdagangan manusia selama 7 tahun. Sementara Aljazair, Kongo, Guinea-Bissau, Papua Nugini, Rusia, dan Venezuela masuk kedalam golongan negara tingkat 3 selama 6 tahun.

Perdagangan manusia, human trafficking

Dari seluruh negara di dunia, berikut ini adalah 11 negara dengan perlindungan terburuk terhadap korban perdagangan manusia dan memilili kasus perdagangan manusia yang banyak.

1. Guinea Khatulistiwa


Guinea Khatulistiwa telah masuk dalam daftar negara tingkat 3 dari tahun 2011 hingga 2018. Sebagian besar perempuan dan gadis muda di Guinea Khatulistiwa rentan terhadap perdagangan manusia. Negara ini juga merupakan tujuan bagi para korban yang mungkin rentan terhadap kerja paksa.

Sebagian besar korban perdagangan dieksploitasi di kota-kota seperti Bata, Malabo, dan Mongomo yang sedikit maju dan menarik bagi para imigran. Perempuan asing dan lokal dieksploitasi secara seksual sementara laki-laki dipaksa untuk bekerja di tambang minyak.

2. Eritrea


Eritrea adalah sumber utama pria, wanita, dan anak-anak yang diperdagangkan. Korban perdagangan manusia menjadi sasaran kerja paksa. Ribuan warga Eritrea yang telah meninggalkan negara mereka untuk mencari kondisi kehidupan yang lebih baik dan pekerjaan baru telah memberikan peluang bagi para pelaku pedagang manusia.

Pemerintah Eritrea juga mewajibkan orang-orang antara 18 dan 40 tahun untuk mengambil bagian dalam kerja paksa sebagai bagian dari layanan nasional selama setidaknya 18 bulan. Kebanyakan orang dipaksa untuk melayani tanpa batas waktu dalam kondisi yang tidak menguntungkan seperti penyiksaan dan penahanan.

3. Iran


Warga negara Iran rentan menjadi korban perdagangan manusia baik di dalam negeri maupun negara-negara lain seperti Afghanistan, Turki, Irak, Pakistan, dan Uni Emirat Arab. Telah dilaporkan peningkatan jumlah anak muda Iran dalam pelacuran di UEA, beberapa di antaranya adalah korban perdagangan manusia yang paspornya telah disita.

Sebagian besar wanita Iran rentan terhadap perdagangan manusia yang dieksploitasi secara seksual di kota-kota Turki yang dekat dengan perbatasan Iran.

4. Korea Utara


Korea Utara adalah negara para manusia yang menjadi korban perdagangan manusia secara seksual dan kerja paksa. Di dalam negeri, kerja paksa adalah bagian dari represi politik dan salah satu pilar sistem ekonomi. Warga negara dikenakan kerja paksa melalui pekerjaan yang ditugaskan.

Sekitar 120.000 orang ditahan di kamp-kamp, ​​dengan sebagian besar tahanan tidak didakwa melakukan kejahatan. Penindasan pemerintah telah memaksa ribuan orang melarikan diri dari negara itu dan membuat mereka rentan menjadi korban perdagangan manusia.

5. Republik Afrika Tengah


Republik Afrika Tengah adalah sumber dan transit bagi orang-orang, terutama anak-anak yang menjadi korban perdagangan seks dan kerja paksa. Sebagian besar korban perdagangan manusia di Republik Afrika Tengah adalah warga negara yang dieksploitasi di dalam negeri.

Korban lainnya diangkut ke negara-negara tetangga seperti Nigeria, Republik Demokratik Kongo, Chad, dan Kamerun. Ketidakstabilan politik dan perpindahan lebih dari satu juta orang telah meningkatkan kerentanan anak-anak, pria, dan wanita terhadap perdagangan manusia.

6. Mauritania


Mayoritas orang yang menjadi sasaran perbudakan di Mauritania adalah anak-anak dan orang dewasa dari komunitas Afro-Mauritan dan Black Moor. Para korban dipaksa bekerja tanpa bayaran.

Gadis dan wanita Mauritania yang direkrut oleh agen-agen asing sebagai pekerja rumah tangga sering menjadi korban perdagangan seks di Arab Saudi. Beberapa diantaranya dipaksa menikah oleh agen perjalanan dan calo baik di negara itu maupun di negara Timur Tengah lain.

7. Suriah


Perdagangan manusia di Suriah terus memburuk karena perang saudara yang sedang berlangsung di negara itu. Lebih dari setengah populasi Suriah telah mengungsi dan ribuan orang terbunuh sejak awal konflik. Warga Suriah yang berada di kamp-kamp pengungsi sangat rentan terhadap perdagangan manusia, terutama anak-anak yang dipaksa menikah dini dan menjalani kerja paksa.

8. Aljazair


Aljazair bertindak sebagai rute transit bagi orang-orang yang menjadi korban perdagangan manusia. Negara ini juga (pada tingkat lebih sedikit) menjadi tujuan bagi orang-orang yang diperdagangkan. Paling sering pria dan wanita memasuki Aljazair secara sukarela dan dengan bantuan penyelundup dengan harapan akan diantar ke Eropa sebagai imigran.

Namun, beberapa dari orang-orang ini malah menjadi korban perdagangan manusia dan dipaksa menjadi pelacur serta pekerja kasar. Setidaknya 10.000 orang di Aljazair berisiko tinggi diperdagangkan.

9. Guinea-Bissau


Orang-orang yang diperdagangkan dari Guinea-Bissau menjadi sasaran pelacuran dan kerja paksa. Negara ini merupakan sumber dan tujuan bagi anak laki-laki Afrika Barat yang menjadi sasaran kerja paksa. Sebagian besar anak laki-laki di Guinea-Bissau menghadiri sekolah-sekolah Al-Quran.

Beberapa marabout yang mengajar anak-anak ini memaksa mereka untuk mengemis di sekitar sekolah dan di lingkungan tersebut. Sebagian besar pelaku perdagangan manusia adalah laki-laki dari daerah Gabu dan Bafata.

10. Rusia


Lebih dari 5 juta imigran di Rusia bekerja dalam kondisi perbudakan di pabrik dan sebagai pengemudi publik. Para pekerja ini rentan terhadap perdagangan seks dan kerja paksa. Masuknya para imigran ke negara itu difasilitasi oleh para pejabat Rusia. Pejabat lain bahkan disuap untuk tidak menyelidiki atau memberikan laporan palsu tentang kejahatan perdagangan manusia.

Sebagai negara tujuan, sumber, dan transit bagi para korban perdagangan manusia, Rusia tidak berbuat banyak untuk melindungi para korban perdagangan manusia.

11. Venezuela


Lebih dari setengah orang yang diperdagangkan dari Venezuela adalah orang dewasa, 26% adalah anak perempuan, dan 19% anak laki-laki. Para korban terpikat oleh iming-iming pekerjaan yang dibayar dengan gaji besar dan kondisi kerja yang lebih baik, tetapi berakhir di negara-negara di mana pelaku perdagangan manusia memaksa mereka menjadi pelacur dan kerja paksa.

Venezuela melakukan tindakan yang sangat sedikit untuk menghukum atau mencegah perdagangan manusia meskipun memiliki undang-undang yang ketat terhadapnya. Sejak 2013, hanya tiga orang yang dihukum berdasarkan hukum perdagangan manusia.

12. Kuwait


Kuwait adalah negara tujuan bagi orang-orang yang diperdagangkan yang sebagian besar menjadi sasaran kerja paksa. Pria dan wanita yang bermigrasi ke Kuwait secara sukarela dari bagian dunia lain seperti Afrika, Timur Tengah, dan Asia Tenggara untuk mencari pekerjaan seringkali rentan terhadap pelecehan seksual dan kerja paksa.

Karena kondisi berbahaya di Kuwait, beberapa negara telah membatasi para warga perempuan mereka ketika ingin pergi ke Kuwait.

13. Libya


Libya adalah negara tujuan dan transit bagi orang-orang yang diperdagangkan, terutama dari Afrika sub-Sahara. Itu juga merupakan negara sumber bagi anak-anak Libya yang menjadi sasaran milisi bersenjata di dalam negeri. Milisi bersenjata ini merekrut dan menggunakan anak-anak muda di bawah 18 tahun.

Anak-anak juga sering menjadi korban kekerasan seksual. Kejahatan perdagangan manusia di negara ini disebabkan oleh ketidakstabilan politik dan kurangnya pengawasan pemerintah.

14. Yaman


Yaman adalah negara asal para anak-anak dan orang dewasa yang menjadi korban kerja paksa dan perdagangan seks. Perdagangan manusia telah terjadi karena banyaknya konflik kekerasan dan kurangnya aturan hukum. Anak laki-laki Yaman menjadi sasaran kerja paksa setelah bermigrasi ke Arab Saudi dan Oman. Beberapa anak yang diperdagangkan juga dipaksa menjadi budak nafsu dan penyelundupan narkoba ke Arab Saudi.

15. Zimbabwe


Perempuan dan gadis muda di kota-kota Zimbabwe yang dekat dengan perbatasan menjadi sasaran budak pemuas nafsu untuk para pengemudi truk jarak jauh. Para pria juga menjadi sasaran kerja paksa dalam rumah tangga dan pertanian, terutama di daerah pedesaan.

Anak-anak dari daerah pedesaan direkrut oleh anggota keluarga mereka yang menjadi pembantu rumah tangga. Banyak warga Zimbabwe menyeberang ke Afrika Selatan dengan bantuan sopir taksi. Mereka kemudian menjadi sasaran kerja paksa dan pelacuran.

Peringkat negara terburuk dalam penanganan dan perlindungan korban perdagangan manusia:
  1. Guinea Khatulistiwa
  2. Eritrea
  3. Iran
  4. Korea Utara
  5. Republik Afrika Tengah
  6. Mauritania
  7. Syria
  8. Aljazair
  9. Kongo
  10. Guinea-Bissau
  11. Papua Nugini
  12. Rusia
  13. Venezuela
  14. Kuwait
  15. Libya
  16. Sudan
  17. Yaman
  18. Zimbabwe
  19. Belarus
  20. Belize
  21. Burundi
  22. Komoro
  23. Kuba
  24. Arab Saudi
  25. Sudan Selatan
  26. Turkmenistan
  27. Uzbekistan
  28. Cina
  29. Gambia
  30. Kongo
  31. Madagaskar
  32. Pulau Marshall
  33. Thailand
  34. Bolivia
  35. Birma
  36. Djibouti
  37. Republik Dominika
  38. Gabon
  39. Guinea
  40. Haiti
  41. Laos
  42. Libanon
  43. Malaysia
  44. Mali
  45. Mikronesia
  46. Suriname
Itulah negara terburuk dalam penanganan dan perlindungan korban perdagangan manusia. Negara-negara tersebut termasuk negara dengan jumlah perdagangan manusia paling banyak di dunia. Terimakasih sudah berkunjung di blog sederhana ini, semoga bermanfaat.
Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Post a Comment